Apakah Sukses Itu Artinya Kaya?

Saya ingin menjadi orang yang sukses, orang yang berhasil, orang yang kaya. Tunggu. Seringkali kita mendengar bahwa sukses itu sama dengan kaya secara materi. Oke, umumnya, ketika kita bertemu dengan kerabat yang kaya raya, mungkin beberapa orangtua akan mengatakan yang kurang lebih seperti ini: “Wah, dia masih lumayan muda uda sukses ya” “Hebat banget ya si Budi, uda pinter terus sukses lagi”.

Hayo, ngaku siapa yang berpikir bahwa sukses itu yang nggak jauh-jauh dari kaya akan materi? Sebenarnya, saya sering ragu jika tiba-tiba pikiran saya bertanya dengan sendirinya, “Eh, menurut kamu sukses itu apa sih?” Saya tidak sengaja menemukan quote ini di sebuah situs web. Bagi saya, kutipan di bawah ini adalah jawaban yang sangat akurat mengena di lubuk hati saya.

“There are some things success is NOT. It’s not fame. It’s not money or power. Success is waking up in the morning so EXCITED about what you have to do that you literally fly out the door. It’s getting to WORK WITH PEOPLE you LOVE. Success is connecting with the world and making people feel. It’s finding a way to bind together people who have nothing in common but a DREAM. It’s falling a sleep knowing you did the BEST JOB you could. Success is joy, and freedom, and FRIENDSHIP. And success is love.” ~ Allison Burnett

Sukses itu bukanlah ketenaran, juga bukan perihal uang dan kekuasaan. Sukses itu dapat bangun di pagi hari dengan semangat akan melakukan sesuatu yang kamu kehendaki. Dapat bekerja dengan orang-orang yang kamu kasihi. Sukses itu membuat dunia terhubung dan membuat orang-orang dapat merasakan sesuatu yang menyenangkan. Dapat menemukan orang-orang yang tidak memiliki kesamaan sama sekali kecuali mimpi. Dapat tidur lelap dengan mengetahui bahwa Anda telah melakukan pekerjaan yang bisa Anda lakukan dengan upaya yang terbaik. Sukses itu sukacita, kebebasan, persahabatan dan cinta.

Persoalan memenuhi kebutuhan yang seringkali dijadikan alasan untuk orang-orang yang mengatakan alasan untuk sukses. Saya lebih memilih mendapatkan apa yang saya butuhkan. Bukan mendapatkan apa yang saya inginkan tetapi tidak saya butuhkan sama sekali, yang ada hanya mubazir.

Nah, quotes Om Allison mengena di Anda juga nggak?

Advertisements

Apakah Penampilan Itu Penting? Simak Jawaban Ini

Saya sering berpikir, mengapa hanya karena penampilan, seseorang seringkali mendapatkan cemooh. Hanya karena seseorang begitu berbeda dengan masyarakat pada umumnya, seseorang mendapatkan perlakuan yang buruk. Tentang penampilan, bagi saya yang terpenting itu rapi dan bersih saja sudah cukup. Bukan mengikuti cara berpenampilan tren masa kini yang jika kita sendiri tidak menghendakinya atau malah terkesan ikut-ikutan. Jika penampilan seseorang membuat risih, dan Anda menyerangnya dengan komentar pedas atau buruk, apakah Anda tidak sadar bahwa komentar tersebut jauh lebih merisihkan orang yang menjadi korban komentar buruk tersebut?

Saya terkadang masih sangat kecewa dengan perlakuan orang-orang yang membedakan seseorang hanya karena penampilannya. Saya hanya ingin Anda memahami bahwa penampilan itu soal selera individu atau juga ada sesuai dengan ajaran-Nya, yang mungkin kita tak mengetahuinya. Sama seperti kejadian yang di bawah ini.

180bldtszsje3jpg

Seorang pengguna reddit, mengepos foto seorang wanita Sikh yang diambil dengan diam-diam, dengan diberi judul “Aku tidak yakin harus menyimpulkan apa wanita seperti ini.” Kebingungan pengguna reddit tersebut berasal dari fakta yang menyatakan bahwa wanita Sikh yang telah terikat oleh perintah ajaran agamanya untuk tidak boleh memotong rambut mereka ataupun mengubah tubuh mereka, mereka jadinya memiliki banyak rambut dan wajah rambut yang tak terpangkas. Ya, terdapat banyak rambut di wajahnya. Wanita Sikh memang sangat berani, percaya diri dan cukup saleh untuk tidak mengikuti standar kecantikan wanita barat (ekspektasi gender)

*Jawaban dari seorang wanita Sikh inilah yang membuat saya berdecak kagum dan bangga. Dia merespon foto yang telah diunggah pengguna reddit tersebut.

Halo semua, saya adalah Balpreet Kaur, seorang perempuan di foto tersebut. Sebenarnya saya tidak tahu tentang adanya keberadaan foto tersebut sampai teman saya memberitahu saya di Facebook. Namun, saya tidak merasa malu atau bahkan dipermalukan karena komentar yang positif dan negatif yang dilontarkan untuk foto tersebut. Ya, saya adalah seorang Sikh yang telah dibabptis dengan rambut di wajah.

Saya juga menyadari bahwa gender saya selalu membuat orang bingung karena saya terlihat berbeda dari perempuan kebanyakan.Namun, yang telah dibaptis Sikh percaya akan kesucian tubuh ini – adalah hadiah yang telah diberikan kepada kita oleh pribadi yang Ilahi dan harus tetap utuh sebagai kepatuhan atas kehendak Ilahi. Seperti seorang anak yang tidak menolak hadiah dari orangtuanya. Sikh tidak menolak tubuh yang telah diberikannya untuk kita. Kita pada dasarnya hidup dalam ego dan menciptakan keterpisan antara diri kita dan keilahian dalam diri kita.

Dengan melampaui pandangan masyarakat tentang kecantikan, saya percaya saya bisa lebih fokus terhadap aksi saya. Sikap dan pemikiran saya lebih bernilai dibandingkan tubuh saya karena saya menyadari bahwa tubuh ini pada akhirnya akan jadi abu, jadi buat apa ribut tentang hal itu? Ketika pada nantinya saya meninggal, mungkin saja tak ada orang yang dapat mengingat rupa saya sih. Anak saya akan lupa dengan suara saya dan secara perlahan ingatan akan fisik/penampilan akan lenyap begitu saja. Namun, pengaruh saya dan warisan saya akan tetap hidup. Dan lagi, dengan tidak memfokuskan diri saya pada kecantikan fisik, saya memiliki waktu untuk memupuk kebajikan batin dan fokus pada menciptakan perubahan dan kemajuan bagi dunia ini dengan cara apapun yang bisa saya lakukan. Jadi, menurut saya, wajah saya tidak penting, namun pentingnya senyuman dan kebahagiaan yang ada di balik itu semua.

Saya menghargai semua komentar yang positif dan kurang positif, karena dengan ini saya mendapatkan pemahaman yang lebih baik akan diriku sendiri dan orang lain. Dan juga, celana yoga ini cukup nyaman untuk dipakai dan kaos Better Together ini berasal dari Interfaith Youth Core, sebuah organisasi yang memfokuskan diri pada cerita dan keterlibatan antara berbagai keyakinan. Saya berharap dengan ini dapat sedikit menjelaskan segala sesuatu dan saya juga minta maaf karena telah menyebabkan kebingungan dan mengucapkan kata yang telah menyakiti Anda semua.

*Dengan respon seperti ini, pengguna reddit yang memposting foto tersebut langsung minta maaf pada Balpreet karena dia mengakui telah berlaku bodoh dan berpikir sempit sebelumnya.

Ada lagi nih, jawaban Mark Zuckerberg tentang penampilan, agak panjang, tetapi worth to read.

APA YANG SAYA SUKAI DARI PRISCILLA CHAN ISTERI SAYA?

Raut wajah seorang wanita adalah cermin hati sanubari seseorang, senyumnya memukau selamanya. Sejak hamil, Priscilla sama sekali mengabaikan perubahan yang terjadi pada raut mukanya akibat kehamilannya. Tetap berpakaian sederhana, tanpa dandan, namun kebahagiaannya saya rasakan sepenuhnya dan juga nampak kepada orang lain.

Saya mencintai kesederhanaan Priscilla. Saya mencintai penampilannya: bersemangat namun bijak, berani namun penuh kasih, berjiwa pemimpin namun juga bisa mendukung orang lain. Saya mencintai keseluruhannya. Saat bersamanya, saya merasa sangat nyaman dan santai.

Saya sama sekali tidak merasa Priscilla tersanjung kepada saya. Selain memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, dia juga memiliki kecerdasan emosi/sosial yang tinggi. Jangan lupa bahwa Priscilla adalah lulusan jurusan Kedokteran Harvard University. Anda bisa coba test masuk universitas tsb, jurusan Hukum, Kedokteran, Ekonomi adalah jurusan yang menjadi rebutan orang. Walaupun lulus test masuk belum tentu Anda bisa lulus penuh. Kalau mau dikatakan tersanjung, lebih tepat saya yang tersanjung kepada Priscilla, bukan sebaliknya.

Perkawinan ibarat sepasang sepatu. hanya yang memakainya tahu sepatunya nyaman dipakai atau tidak. Priscilla paling cocok buat saya. Saya dan Priscilla adalah pasangan yang paling ideal di bumi ini. Saya berkenalan dengan Priscilla saat mengantre di toilet. Di mata Priscilla, saya adalah seorang kutu buku. Ini adalah jodoh.

Di mata kalian, Priscilla adalah wanita yang tidak cantik. Namun di mata saya, ia adalah wanita cantik dan paling serasi dengan saya. Saya tidak bisa menahan diri memamerkan foto saya dengan Priscilla yang begitu berbahagia. Dalam foto nampak saya dan Priscilla begitu bahagia, damai, dan alami.

Tips bagi kalian: sebagian wanita hanya melihat keburukan orang lain, tidak melihat kecantikan orang lain. Dengan demikian, kebahagiaan akan meninggalkan kalian, tidak berjodoh. Sebab, apa yang ada dalam hati itulah yang ada dalam kenyataan.

LALU, TENTANG BAJU DAN MOBIL APA YANG SAYA PAKAI

Betul, sepanjang tahun saya memakai T-shirt abu2 dan mobil yang sangat sederhana. Saya tegaskan, saya bukan orang yang berhari2 tidak ganti baju. Namun, saya membeli banyak T-shirt berwarna abu2. Saya berusaha menjalani hidup ini sesederhana mungkin, supaya menghemat pikiran dan waktu memutuskan berbagai hal yang tidak penting. Sebab memilih memakai pakaian, makan pagi, dan berbagai hal kecil itu menyita cukup banyak waktu dan pikiran. Saya tidak ingin membuang waktu hanya untuk hal2 kecil tsb, sehingga saya bisa lebih konsentrasi melakukan berbagai hal yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Saya memiliki tiga buah mobil, satu Toyota seharga USD 16 ribu, VW golf seharga USD 18 ribu dan Chevrolet TSX seharga USD 30 ribu. Setelah Facebook go public, saya ganti VW GTI seharga USD 30 ribu. Saya berpendapat, mobil hanya sebuah alat transportasi, tidak perlu yang mahal2.

Saya tidak memakai berbagai barang branded, yang penting saya merasa nyaman. Mengapa butuh barang2 yang berlebihan? Kalau yang menyangkut kebutuhan berlebihan, justru otak, perasaan sendiri lebih butuh diutamakan.

Kata bijak Chinese zaman dulu, ‘Manusia harus menaklukkan benda bukan ditaklukkan benda”. Maksudnya adalah, berbagai materi kehidupan untuk digunakan/dikendalikan manusia, bukan sebaliknya. Saya sangat setuju dengan pemikiran tsb.

Saya sangat salut ucapan yang pernah diucapkan Mandela, yaitu ‘Jiwa saya adalah pemimpin saya, nasib saya dikendalikan oleh diri saya sendiri’. Makanya saya tidak gila branded, tidak ada manfaatnya dan sangat tidak masuk akal.

Apa yang ada dalam hati itulah kenyataan yang ada di dunia. Percayalah bahwa dunia ini adalah alam semesta yang indah, jika Anda tidak percaya, Anda tidak akan bisa memiliki dunia/alam semesta yang indah. Tidak akan memiliki kehidupan yang indah dan penuh kedamaian. Hal tsb di atas merupakan keyakinan saya dan Priscilla.

Akhir kata, bila ada yang tidak berkenan, mohon petunjuk! Anda bisa tinggalkan pesan untuk saya. Terima kasih telah luangkan waktu mendengar yang saya sampaikan.

Terima kasih.

Salam,

Mark Zuckerberg 

***

Bagaimana? Respon Balpeert cukup mencengangkan, bukan? Kalau saya sih berpikir, jangan hanya karena penampilan seseorang kita menambah dosa dengan mengatai ataupun mengolok-olok orang tersebut. Buang-buang kata saja, lebih baik kuota dalam berkata-kata digunakan untuk menungkapkan hal yang baik dan positif. Setuju kah Anda?

Tanggapan Mark terhadap para komentator pun sangat bijak dan apa adanya.

Is that all clear enough for you?

Referensi : http://jezebel.com/5946643/reddit-users-attempt-to-shame-sikh-woman-get-righteously-schooled  |  https://en.wikipedia.org/wiki/Women_in_Sikhism  |  http://blog-berita24jam.blogspot.co.id/2016/02/nangis-bacanya-ini-lah-curahan-hati.html

Menjadi Single Itu Berkat Lho!

Bagi masyarakat pada umumnya, tangga kehidupan yang ideal yaitu dari bayi – remaja – dewasa – menikah – orangtua – menikmati masa tua. Betul? Tetapi bagaimana untuk sebagian orang yang ingin stay single? Bagaimana tanggapan orang-orang sekitar? Sebagian besar mereka akan menganggap itu aneh, bagi mereka setiap orang harus bahagia. Ya, bahagia yang ingin dirasakan tetapi bukan harus melalui pernikahan dulu, bukan? Dengan stay single, Anda tetap akan merasakan kebahagiaan, dan siapa tahu single merupakan sebuah berkat.

Screen-shot-2012-07-06-at-2.41.50-PM

1. Single itu berkat

Terdapat banyak paragraf tentang single yang mendorong saya untuk menulisnya disini.

What does the Bible have to say about being single? And how are we to understand singleness, this unique design by God for some of you? We all are aware of the fact that God has designed the relationship of marriage to be the most common expression of human life in an intimate social way. God has designed marriage and called it the grace of life, the gift of God for the fulfillment of most people. And marriage is the only relationship in which sexual intimacy can take place at all. It is God’s design and God’s gift.

But it is not the only design of God. God designed that some people be unmarried. And that too fits into God’s will and God’s purpose. A very noble and a very excellent and godly man, to be sure, was the Apostle Paul, and a single man, as well. For he writes in 1 Corinthians chapter 7 in verse 7, “Yet I wish that all men were even as I myself am, however, each man has his own gift from God, one in this manner and another in that. But I say to the unmarried and to widows that it is good for them if they remain even as I, but if they do not have self-control, let them marry for it is better to marry than to burn…implied with desire.”

Kesimpulan: Pernikahan adalah sebuah desain dan anugerah dari Tuhan, tetapi pernikahan bukan hanya satu-satunya rancangan dari-Nya. Dia merancang untuk sebagian orang menjadi single. Sesuai dengan kehendak dan tujuan-Nya. Namun, seperti yang Rasul Paulus katakan, “Saya berharap bahwa semua orang seperti saya, namun, setiap orang mempunyai masing-masing karunia dari Allah, satu dengan cara yang ini, yang lain dengan cara yang itu. Saya katakan kepada para lajang dan janda/duda bahwa menjadi single itu baik bagi mereka, akan tetapi jika tidak memiliki pengendalian diri, lebih baik menikahlah daripada terbakar oleh api kenafsuan yang tersirat.”

*Ya, tulisan tersebut berasal dari alkitab yang dikotbahkan oleh seorang pendeta, saya luruskan dulu satu hal, saya disini tidak sedang berbicara tentang agama ataupun jadi perwakilan, ajaran yang saya anut tidak berhubungan dengan alkitab. Jadi, saya tidak memihak. Saya suka dan setuju dengan semua penggalan tersebut, atas dasar inilah saya menuangkannya disini.

2. Kebanyakan dari married people merasa sengsara.

wpid-fb_img_1423920506486

Wah, maksudnya apa nih? Ini penulis pro single banget yak? Eitss, tunggu dulu, pikirannya jangan melayang kemana-mana dulu.

And I would suggest to you and with no fear of contradiction that the most miserable people in the world are not single. It’s true. The most miserable people in the world are married. That does not mean that all married people are miserable, I’m not. I’m thrilled, I’m happy. But I’ll tell you, the potential for misery in marriage is greater than the potential for misery being single because when you’re single there’s only one person who can make you miserable. And as I’ve said before, the only thing worse than wishing you were married is wishing you weren’t. All marriages have difficulty, hardship, sacrifice because you have two people who are human, who are fallen and they’re pressed so tightly together.

Then they have children, and you know what happens? More little sinners and you crush them into the mix. And the sin of one…speak for your own children, feel free, right?…I think you speak for all of us, but when you press all these sinners into the same environment there is an immense complexity. I think of that as a father. I not only have to deal with sin and temptation in my own life, but I have to shepherd my wife and all my children, and now all my little sinning grandchildren. And I’m telling you, when they’re all together, parents, children and all the sinners in one place at one time, it is a ministerial monstrosity. You can just about ask anybody who is married if they’ve ever had trouble, and they will…if they’re honest…tell you of course, it’s part of married life.

Kesimpulan: Di dunia ini yang lebih paling sengsara adalah orang-orang yang menikah. Ini benar adanya. Akan tetapi bukan berarti setiap orang yang telah menikah pasti sengsara. Ada yang bahagia juga pastinya. Namun, maksudnya, potensi kesengsaraan orang dalam pernikahan lebih tinggi daripada kesengsaraan orang yang statusnya single, karena dengan status single, hanya ada seseorang yang membuat Anda sengsara yaitu Anda sendiri.

Semua pernikahan mempunyai kesulitan, tantangan, pengorbanan yang dikarenakan 2 insan manusia, yang saling jatuh dan saling menekan dengan erat satu sama yang lain. Dalam pernikahan, terdapat beberapa anak yang artinya bertambahlah para pendosa kecil, saya berpikir seperti itu sebagai seorang ayah. Saya tidak hanya berkutat dengan dosa dan godaan di dalam diri saya sendiri, tetapi saya juga harus menggembalakan istri dan semua anak saya dan sekarang sedikit dosa dari cucu-cucu saya.

Bertanyalah tentang masalah pernikahan yang dihadapi kepada orang yang telah menikah, jika mereka mau jujur, akan ada masalah pernikahan yang dapat diutarakannya kepada Anda, karena ini adalah bagian dari kehidupan pernikahan.

3. Pernikahan bukanlah solusi.

Please, if you’re single, do not look at marriage as the solution to your trouble. It probably is the multiplication of it. Marriage intensifies human weakness because it puts you under such intimate scrutiny. Sometimes young people say, “You know, I have strong desires sexually and if I can just get married.” That is not in itself a sufficient reason to get married. Even after marriage there is no guarantee that your elicit temptation will go away. And the fulfillment you find in your marriage doesn’t satisfy…listen carefully…doesn’t satisfy unrighteous longings.

Some people say, “Well I’m lonely, I need to get married cause I’m lonely.” And they get married and often are far more lonely after married than before because somebody so close becomes so indifferent, and that’s crushing.

Listen carefully, It has no relationship to eternity.

Kesimpulan: Jika Anda single, jangalah mengira pernikahan adalah solusi untuk masalah Anda. Karena kemungkinan besar hanya untuk melipatgandakan masalah. Terkadang terdapat orang-orang muda yang berkata, “Aku mempunyai nafsu seksual yang begitu kuat dan itulah kenapa aku ingin menikah.” Alasan seperti itu tidaklah cukup untuk menikah, bahkan pernikahan pun tidak dapat menjamin godaan seperti itu akan lenyap. Kepuasan dalam pernikahan bukanlah untuk pemuasan semata, bukan memuaskan hal yang melenceng dari kebenaran.

Ada juga yang berkata, “Yah, aku kan kesepian, aku perlu menikah karena aku kesepian.” Dan setelah mereka menikah, seringkali mereka menjadi lebih kesepian daripada sebelumnya, yang karena sikap pasangan Anda menjadi begitu acuh tak acuh pada Anda dan itu menghancurkan. Dengarkan baik-baik, tidak ada hubungan abadi. Tidak ada.

Intinya, jangan melekat.

Young woman reaching hand towards sun

*Ada lagi nih, penggalan yang menggelitik dan menarik untuk dilirik.

The form of this world here is described as marriage, sorrow, material things. It’s all passing away. Marriage is part of the passing world. It’s coming to an end. It is brief. It is a vapor that appears for a little time and vanishes away and our life is very short, James 4:14. What is your life? Just a vapor. And marriage is a part of that very short vapor, it’s a part of that very brief time. It suits us wonderfully and richly for this life but has no connection to eternity. It is God’s design that we attach lightly to earthly things.

“Set your affections on things above and not on things on the earth.” I don’t think it means be indifferent to your spouse, I don’t think that at all. I don’t think it means become so spiritual, so godly and so consumed with ministry that you ignore your life partner or your family. It simply means you must give to marriage a perspective that it belongs to a passing time. You say, “Well, will I not love my partner in heaven?” Of course, but you’ll have perfect love toward everyone. “Will I not know my partner in heaven?” Of course with perfect knowledge the likes of which you’ve never even experienced. But understand the relationship you have now for physical fulfillment, for procreation and for joy is part of temporal life.

Kesimpulan: Pernikahan adalah bagian dari melewati dunia. Sangat singkat dan seperti uap yang muncul dalam sekejap, lalu menghilang. Hidup kita ini sangat singkat sekali. Dan pernikahan merupakan bagian dari uap yang singkat. Pernikahan sesuai dengan kita yang secara luar biasa dirancang untuk hidup ini, tetapi tidak abadi. Inilah rancangan Tuhan kepada kita untuk tidak lekat kepada hal-hal duniawi. Taruhlah kasih sayang di atas semua hal, tetapi tidak di atas bumi ini. Bukan berarti menjadi acuh tak acuh dengan pasanganmu. Juga bukan berarti menjadi sangat religius dan meninggalkan pasangan dan keluargamu. Sederhananya, Anda harus menempatkan pernikahan sebagai sesuatu untuk berlalunya waktu. Mengertilah bahwa hubungan yang Anda bangun adalah untuk pemuasan secara fisik, berkembang biak dan kesenangan yang semuanya itu adalah bagian dari kehidupan duniawi.

Don’t let your marriage be a distraction from your spiritual life. You don’t want your human emotions to distract you from your spiritual life. You don’t want materialism to distract you from your spiritual life. You don’t want worldly pleasure to distract you from your spiritual life. And God has given you all those things to enjoy and you don’t want marriage to distract you either. Sorrow can be a distraction, so can pleasure and possessions and so can marriage.

Kesimpulan: Jangan biarkan pernikahan, emosi manusia, materialisme, kesenangan duniawi menjadi gangguan untuk kehidupan spiritual Anda. Penderitaan bisa menjadi gangguan, demikian juga kesenangan, kepemilikan dan pernikahan.

Saya juga setuju dengan penggalan beberapa paragraf di bawah ini:

“Hidup lajang maupun menikah, jika dijalani dengan bertanggung jawab, adalah pilihan yang sama-sama mulia. Masing-masing pilihan itu hadir lengkap dengan sukacitanya serta, tentunya, kesulitannya sendiri. Hidup lajang yang penuh berkat sudah disediakan bagi siapa saja yang tahu bagaimana cara mewujudkannya.”

“Hidup lajang, bagi banyak orang nampaknya merupakan suatu hal yang menakutkan sekaligus memalukan. Mungkin inilah yang menyebabkan para orangtua merasa gelisah jika anak mereka yang sudah cukup umur belum kunjung punya pacar. Inilah juga, mungkin, yang mendorong orang untuk bersikap asal bisa menikah, dengan siapa saja yang tersedia. Nantinya akan menghasilkan rumah tangga seperti apa, tidak dianggap penting dan tidak dipikirkan sejak awal. Maka, tidak heran jika banyak pasangan suami istri yang akhirnya bercerai hanya selang beberapa waktu setelah menikah atau meneruskan hidup berkeluarga tetapi tidak pernah bertegur sapa. Akibatnya, anak-anak juga yang menjadi korban.”

“Sementara itu, orang yang memilih untuk tetap melajang sampai tua dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani, bahkan tak jarang dipandang rendah. Suatu hari, seseorang yang baru berkenalan dengan saya bertanya, “Putra Ibu berapa?”, saya pun menjawab, “Saya single.” Mendengar jawaban saya, si penanya tadi meminta maaf karena telah menanyakan hal itu, padahal menurut saya, tidak ada yang salah dengan pertanyaannya tersebut.”

“Sesungguhnya, hidup lajang maupun menikah, jika dijalani dengan bertanggung jawab, adalah pilihan yang sama-sama mulia. Masing-masing pilihan itu hadir lengkap dengan sukacitanya serta, tentunya, kesulitannya sendiri.”

“Secara umum, orang yang hidup lajang memiliki lebih banyak waktu, kesempatan, dan kebebasan untuk mengembangkan diri serta meniti karir, sebuah ‘kemewahan’ yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang menikah. Mereka yang hidup lajang tidak dibebani dengan tanggung jawab dan tugas-tugas rumah tangga yang, meskipun seringkali kelihatan remeh, tetapi berat dan memakan banyak waktu. Mereka juga tidak dibebani dengan keharusan untuk saling menyesuaikan diri dengan pasangan yang dalam praktiknya, seringkali tidak mudah.”

***

Jadi, lajang ataupun sudah menikah, tetap hargai siapapun di sekitarmu yang menentukan jalan kehidupannya sendiri. Tak perlu merasa benar karena telah menikah dan punya pasangan lalu merendahkan yang single; Tak perlu merasa lebih bebas dan tak punya beban berat menjadi single lalu merendahkan banyaknya beban hidup orang yang menikah. Masing-masing punya tantangan dan kesenangan sendiri. Dengan ikut campur, hanya akan memperkeruh air yang sudah kotor.

Referensi : https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:x0SePXgLFCQJ:https://www.gty.org/resources/pdf/sermons/90-109+&cd=2&hl=en&ct=clnk&gl=id | http://ributrukun.com/post/hidup-lajang-yang-penuh-berkat-1457443820

Pandangan Terhadap Wanita Sisa – Leftover Women

Ha? Apa itu wanita  sisa (剩女- Leftover Women)? Ya, ini adalah istilah yang sengaja dibuat untuk merendahkan atau menghina wanita yang masih belum menikah di usia yang lebih dari 25 tahun di China. Istilah ini dipopulerkan oleh All-China Women’s Federation | Perserikatan Perempuan Seluruh China | 中华全国妇女联合会. Lucunya, terbentuknya Perserikatan Perempuan Seluruh China merupakan organisasi non-pemerintah yang memang hadir untuk mendukung dan melindungi hak-hak perempuan. Perserikatan Perempuan Seluruh China dikabarkan telah diperintahkan oleh pemerintah Republik Rakyat China untuk mempergunakan istilah tersebut karena maraknya fenomena wanita yang tidak menikah pasca-usia 25 tahun. Tahukah Anda betapa buruknya istilah ini terhadap wanita di China?  Anda dapat simak terus tulisan ini.

left-over women in china

Tulisan yang ada pada gambar diatas menjelaskan 3 saran yang dikemukakan oleh Perserikatan Perempuan Seluruh China untuk “leftover women”.

  1. Edukasi tidak membuatmu menarik: Tragisnya seiring dengan bertambahnya usia, wanita menjadi kurang dan kurang berharga, jadi seiringnya dengan gelar M.A atau Ph.D yang mereka raih, mereka sudah semakin bertambah tua seperti mutiara yang menguning.
  2. Jangan terlalu pemilih: Sebab utama wanita yang menjadi “leftover women” dikarenakan standar mereka terhadap pria terlalu tinggi. Pria sempurna pasti ada, tetapi apakah dia akan menikahimu?
  3. Jika ingin menyenangkan hati pria, jagalah selalu penampilanmu: Jika pria tersebut selingkuh, kamu mungkin marah, tetapi jika kamu ribut dengannya, itu berarti kamu tidak menghargainya. Tidak ada pria yang menghabiskan hidupnya dengan selalu setia kepada istri yang ketinggalan zaman dan tak pernah mau berubah. Cobalah ubah gaya rambutmu atau gaya berpakaianmu. Wanita harus senantiasa berubah untuk menjadi lebih baik.

Video di atas ini, bisa disimak bagian yang entah lebih tepat disebut menjual anak dan membeli pasangan untuk anaknya. Whatever, yang pasti too much!

Nah, video yang satu ini tentang pergerakan dari SK II #changedestiny untuk melawan stigma “Leftover Women”.

Sudah nonton videonya? Parah ‘kan? Sampai ada Marriage Market, maaf ya, berasa seperti jual anak tidak sih?  Saya sangat tak setuju istilah wanita sisa(剩女)ini yang digembar-gemborkan. Bahkan banyak sekali wanita China yang mengaku tidak suka istilah seperti ini. Ya, sudah sangat jelas sekali mengapa mereka tidak suka.

Menurut pandangan dari saya yang belum dewasa ini, menikah itu bukan jawaban dari segalanya. Bagi yang merasa menikah itu wajib. Berhentilah sejenak untuk berpikir seperti itu. Apa Anda pernah memikirkan apa yang akan terjadi setelah menikah? Kedua belah pihak memiliki anak, orangtuanya dan mertuanya senang dapat menggendong cucu, dan bagaimana perasaan si wanita nya? dan bagaimana perasaan suami si wanita? Apakah Anda yang memaksa jalan hidup mereka untuk seperti yang kalian inginkan dapat membawakan kebahagiaan? BIG NO! It’s ridiculuos if you think marriage is the answer of life or hapiness or else.

Banyak perempuan yang dipaksa menikah dan akhirnya pasrah (ingin menyenangkan hati orangtua atau tidak tahan ditanyai melulu kapan menikah oleh kerabat), lalu menikah dengan orang yang sebenarnya dia tidak suka atau biasa saja, apa yang akan terjadi, bukankah menjadi lebih sengsara dibandingkan saat si wanita masih single? Apakah Anda lebih rela melihat ketidakbahagiaan anak ataupun kerabat yang menikah dibanding kebahagiaan yang berseri di wajahnya saat mereka lebih senang menjadi single?

Oke, menikah itu tidak salah, bukan sesuatu yang buruk, begitupun juga single. Apapun statusnya is fine, asalkan kita sendiri yang menghendakinya dan at least lebih bisa bertanggung jawab dengan jalan yang kita pilih. Jika ingin menikah, menikahlah. Jika ingin stay singletetaplah menjadi seorang single yang berkualitas. Menikah punya porsi kebahagiaan dan kesengsaraannya sendiri, begitupun juga single yang juga punya porsi kebahagiaan dan kesengsaraannya sendiri, itulah mengapa jika kita sendiri menghendakinya, kita mungkin jauh lebih bisa terima status diri kita yang sekarang. Begitu yang saya pikirkan selama ini.

Terlepas dari label yang ditempelkan ke diri kita, kita semua adalah manusia yang patut dihargai apapun itu. Kita punya hak untuk menentukan arah hidup kita sendiri, bukan berlaku menjadi seorang yang egois, tetapi our life is not people’s concern.

Sebenarnya tulisan ini tertuju kepada orang-orang yang selalu mendesak kerabat, teman ataupun anaknya untuk segera menikah dan tanpa mengacuhkan perasaan orang yang dipaksa. Saya tekankan sekali lagi menikah itu ejaannya bukan b-a-h-a-g-i-a.

Ada juga yang tidak suka istilah ini, seperti yang dikatakan Jay di weibo (social media China) mengatakan: “What’s the use of applying these ‘leftover men’ and ‘leftover women’ terms? In this world, nobody is ‘leftover’ by being unmarried. Marriage is not a way to measure people by.” Terjemahan: “Apa sih gunanya mengaplikasikan istilah ‘pria sisa’ dan ‘wanita sisa’? Di dalam dunia ini, tidak ada yang ‘tersisakan’ dari menjadi single. Pernikahan bukanlah sebuah cara untuk mengukur seseorang.”

Simak cerita di bawah ini yang dituangkan Ajahn Brahm dalam bukunya:

TUKAR POSISI SAJA

Sebagai bhikku, saya sering dimintai untuk melakukan konseling perkawinan, saya tidak tahu mengapa mereka meminta seorang bhikku untuk melakukan konseling seperti ini. Padahal, bhikku kan tidak pernah menikah. Mungkin karena bertanya kepada bhikku itu murah. Selain itu, nasihat dari bhikku juga bagus-bagus.

Suatu ketika, di Australia, saya kedatangan dua orang perempuan, kakak beradik. Mereka datang untuk minta nasihat. Si kakak punya masalah dengan suaminya. Suaminya ini menimbulkan banyak masalah. Perempuan ini mengalami married-woman suffering (derita perempuan menikah). Apa boleh buat, semua suami kan seperti itu? Saya memberikan beberapa nasihat yang baik baginya.

Lalu saya berpaling pada si adik. Adiknya ini punya satu masalah, yaitu: belum menikah. Rupanya, si adiknya ini mengalami single-woman suffering (derita perempuan lajang). Lalu, iseng-iseng, saya menyarankan pada mereka berdua, “Bagaimana kalau Anda tukar posisi saja?”

Ingatlah bahwa pernikahan itu adalah 3-ring affair (permasalahan 3 cincin). Dalam pernikahan, kita akan punya engagement ring (cincin pertunangan), wedding ring (cincin perkawinan), dan suffer-ring (cincin derita).

***

Sekalipun lambat menikah ataupun tidak menikah sama sekalipun, pasti selalu ada blessings yang terselip di dalamnya. Selanjutnya tunggu post saya yang akan membahas Menjadi Single Itu Berkat Lho.

Referensi: [tx.english-ch.com], [https://en.wikipedia.org/wiki/Sheng_nu], [http://www.whatsonweibo.com/not-leftover-women-but-leftover-men-are-chinas-real-problem/], [http://harian.analisadaily.com/rupa-rupa/news/tak-pantas-dipandang-sebelah-mata/99548/2015/01/18], [http://female.kompas.com/read/2016/04/22/190200420/www.shanghaiist.com], [Brahm, Ajahn. (2010). Horeee! Guru Si Cacing Datang. Awareness Publication.]