Pandangan Terhadap Wanita Sisa – Leftover Women

Ha? Apa itu wanita  sisa (剩女- Leftover Women)? Ya, ini adalah istilah yang sengaja dibuat untuk merendahkan atau menghina wanita yang masih belum menikah di usia yang lebih dari 25 tahun di China. Istilah ini dipopulerkan oleh All-China Women’s Federation | Perserikatan Perempuan Seluruh China | 中华全国妇女联合会. Lucunya, terbentuknya Perserikatan Perempuan Seluruh China merupakan organisasi non-pemerintah yang memang hadir untuk mendukung dan melindungi hak-hak perempuan. Perserikatan Perempuan Seluruh China dikabarkan telah diperintahkan oleh pemerintah Republik Rakyat China untuk mempergunakan istilah tersebut karena maraknya fenomena wanita yang tidak menikah pasca-usia 25 tahun. Tahukah Anda betapa buruknya istilah ini terhadap wanita di China?  Anda dapat simak terus tulisan ini.

left-over women in china

Tulisan yang ada pada gambar diatas menjelaskan 3 saran yang dikemukakan oleh Perserikatan Perempuan Seluruh China untuk “leftover women”.

  1. Edukasi tidak membuatmu menarik: Tragisnya seiring dengan bertambahnya usia, wanita menjadi kurang dan kurang berharga, jadi seiringnya dengan gelar M.A atau Ph.D yang mereka raih, mereka sudah semakin bertambah tua seperti mutiara yang menguning.
  2. Jangan terlalu pemilih: Sebab utama wanita yang menjadi “leftover women” dikarenakan standar mereka terhadap pria terlalu tinggi. Pria sempurna pasti ada, tetapi apakah dia akan menikahimu?
  3. Jika ingin menyenangkan hati pria, jagalah selalu penampilanmu: Jika pria tersebut selingkuh, kamu mungkin marah, tetapi jika kamu ribut dengannya, itu berarti kamu tidak menghargainya. Tidak ada pria yang menghabiskan hidupnya dengan selalu setia kepada istri yang ketinggalan zaman dan tak pernah mau berubah. Cobalah ubah gaya rambutmu atau gaya berpakaianmu. Wanita harus senantiasa berubah untuk menjadi lebih baik.

Video di atas ini, bisa disimak bagian yang entah lebih tepat disebut menjual anak dan membeli pasangan untuk anaknya. Whatever, yang pasti too much!

Nah, video yang satu ini tentang pergerakan dari SK II #changedestiny untuk melawan stigma “Leftover Women”.

Sudah nonton videonya? Parah ‘kan? Sampai ada Marriage Market, maaf ya, berasa seperti jual anak tidak sih?  Saya sangat tak setuju istilah wanita sisa(剩女)ini yang digembar-gemborkan. Bahkan banyak sekali wanita China yang mengaku tidak suka istilah seperti ini. Ya, sudah sangat jelas sekali mengapa mereka tidak suka.

Menurut pandangan dari saya yang belum dewasa ini, menikah itu bukan jawaban dari segalanya. Bagi yang merasa menikah itu wajib. Berhentilah sejenak untuk berpikir seperti itu. Apa Anda pernah memikirkan apa yang akan terjadi setelah menikah? Kedua belah pihak memiliki anak, orangtuanya dan mertuanya senang dapat menggendong cucu, dan bagaimana perasaan si wanita nya? dan bagaimana perasaan suami si wanita? Apakah Anda yang memaksa jalan hidup mereka untuk seperti yang kalian inginkan dapat membawakan kebahagiaan? BIG NO! It’s ridiculuos if you think marriage is the answer of life or hapiness or else.

Banyak perempuan yang dipaksa menikah dan akhirnya pasrah (ingin menyenangkan hati orangtua atau tidak tahan ditanyai melulu kapan menikah oleh kerabat), lalu menikah dengan orang yang sebenarnya dia tidak suka atau biasa saja, apa yang akan terjadi, bukankah menjadi lebih sengsara dibandingkan saat si wanita masih single? Apakah Anda lebih rela melihat ketidakbahagiaan anak ataupun kerabat yang menikah dibanding kebahagiaan yang berseri di wajahnya saat mereka lebih senang menjadi single?

Oke, menikah itu tidak salah, bukan sesuatu yang buruk, begitupun juga single. Apapun statusnya is fine, asalkan kita sendiri yang menghendakinya dan at least lebih bisa bertanggung jawab dengan jalan yang kita pilih. Jika ingin menikah, menikahlah. Jika ingin stay singletetaplah menjadi seorang single yang berkualitas. Menikah punya porsi kebahagiaan dan kesengsaraannya sendiri, begitupun juga single yang juga punya porsi kebahagiaan dan kesengsaraannya sendiri, itulah mengapa jika kita sendiri menghendakinya, kita mungkin jauh lebih bisa terima status diri kita yang sekarang. Begitu yang saya pikirkan selama ini.

Terlepas dari label yang ditempelkan ke diri kita, kita semua adalah manusia yang patut dihargai apapun itu. Kita punya hak untuk menentukan arah hidup kita sendiri, bukan berlaku menjadi seorang yang egois, tetapi our life is not people’s concern.

Sebenarnya tulisan ini tertuju kepada orang-orang yang selalu mendesak kerabat, teman ataupun anaknya untuk segera menikah dan tanpa mengacuhkan perasaan orang yang dipaksa. Saya tekankan sekali lagi menikah itu ejaannya bukan b-a-h-a-g-i-a.

Ada juga yang tidak suka istilah ini, seperti yang dikatakan Jay di weibo (social media China) mengatakan: “What’s the use of applying these ‘leftover men’ and ‘leftover women’ terms? In this world, nobody is ‘leftover’ by being unmarried. Marriage is not a way to measure people by.” Terjemahan: “Apa sih gunanya mengaplikasikan istilah ‘pria sisa’ dan ‘wanita sisa’? Di dalam dunia ini, tidak ada yang ‘tersisakan’ dari menjadi single. Pernikahan bukanlah sebuah cara untuk mengukur seseorang.”

Simak cerita di bawah ini yang dituangkan Ajahn Brahm dalam bukunya:

TUKAR POSISI SAJA

Sebagai bhikku, saya sering dimintai untuk melakukan konseling perkawinan, saya tidak tahu mengapa mereka meminta seorang bhikku untuk melakukan konseling seperti ini. Padahal, bhikku kan tidak pernah menikah. Mungkin karena bertanya kepada bhikku itu murah. Selain itu, nasihat dari bhikku juga bagus-bagus.

Suatu ketika, di Australia, saya kedatangan dua orang perempuan, kakak beradik. Mereka datang untuk minta nasihat. Si kakak punya masalah dengan suaminya. Suaminya ini menimbulkan banyak masalah. Perempuan ini mengalami married-woman suffering (derita perempuan menikah). Apa boleh buat, semua suami kan seperti itu? Saya memberikan beberapa nasihat yang baik baginya.

Lalu saya berpaling pada si adik. Adiknya ini punya satu masalah, yaitu: belum menikah. Rupanya, si adiknya ini mengalami single-woman suffering (derita perempuan lajang). Lalu, iseng-iseng, saya menyarankan pada mereka berdua, “Bagaimana kalau Anda tukar posisi saja?”

Ingatlah bahwa pernikahan itu adalah 3-ring affair (permasalahan 3 cincin). Dalam pernikahan, kita akan punya engagement ring (cincin pertunangan), wedding ring (cincin perkawinan), dan suffer-ring (cincin derita).

***

Sekalipun lambat menikah ataupun tidak menikah sama sekalipun, pasti selalu ada blessings yang terselip di dalamnya. Selanjutnya tunggu post saya yang akan membahas Menjadi Single Itu Berkat Lho.

Referensi: [tx.english-ch.com], [https://en.wikipedia.org/wiki/Sheng_nu], [http://www.whatsonweibo.com/not-leftover-women-but-leftover-men-are-chinas-real-problem/], [http://harian.analisadaily.com/rupa-rupa/news/tak-pantas-dipandang-sebelah-mata/99548/2015/01/18], [http://female.kompas.com/read/2016/04/22/190200420/www.shanghaiist.com], [Brahm, Ajahn. (2010). Horeee! Guru Si Cacing Datang. Awareness Publication.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s