Menjadi Single Itu Berkat Lho!

Bagi masyarakat pada umumnya, tangga kehidupan yang ideal yaitu dari bayi – remaja – dewasa – menikah – orangtua – menikmati masa tua. Betul? Tetapi bagaimana untuk sebagian orang yang ingin stay single? Bagaimana tanggapan orang-orang sekitar? Sebagian besar mereka akan menganggap itu aneh, bagi mereka setiap orang harus bahagia. Ya, bahagia yang ingin dirasakan tetapi bukan harus melalui pernikahan dulu, bukan? Dengan stay single, Anda tetap akan merasakan kebahagiaan, dan siapa tahu single merupakan sebuah berkat.

Screen-shot-2012-07-06-at-2.41.50-PM

1. Single itu berkat

Terdapat banyak paragraf tentang single yang mendorong saya untuk menulisnya disini.

What does the Bible have to say about being single? And how are we to understand singleness, this unique design by God for some of you? We all are aware of the fact that God has designed the relationship of marriage to be the most common expression of human life in an intimate social way. God has designed marriage and called it the grace of life, the gift of God for the fulfillment of most people. And marriage is the only relationship in which sexual intimacy can take place at all. It is God’s design and God’s gift.

But it is not the only design of God. God designed that some people be unmarried. And that too fits into God’s will and God’s purpose. A very noble and a very excellent and godly man, to be sure, was the Apostle Paul, and a single man, as well. For he writes in 1 Corinthians chapter 7 in verse 7, “Yet I wish that all men were even as I myself am, however, each man has his own gift from God, one in this manner and another in that. But I say to the unmarried and to widows that it is good for them if they remain even as I, but if they do not have self-control, let them marry for it is better to marry than to burn…implied with desire.”

Kesimpulan: Pernikahan adalah sebuah desain dan anugerah dari Tuhan, tetapi pernikahan bukan hanya satu-satunya rancangan dari-Nya. Dia merancang untuk sebagian orang menjadi single. Sesuai dengan kehendak dan tujuan-Nya. Namun, seperti yang Rasul Paulus katakan, “Saya berharap bahwa semua orang seperti saya, namun, setiap orang mempunyai masing-masing karunia dari Allah, satu dengan cara yang ini, yang lain dengan cara yang itu. Saya katakan kepada para lajang dan janda/duda bahwa menjadi single itu baik bagi mereka, akan tetapi jika tidak memiliki pengendalian diri, lebih baik menikahlah daripada terbakar oleh api kenafsuan yang tersirat.”

*Ya, tulisan tersebut berasal dari alkitab yang dikotbahkan oleh seorang pendeta, saya luruskan dulu satu hal, saya disini tidak sedang berbicara tentang agama ataupun jadi perwakilan, ajaran yang saya anut tidak berhubungan dengan alkitab. Jadi, saya tidak memihak. Saya suka dan setuju dengan semua penggalan tersebut, atas dasar inilah saya menuangkannya disini.

2. Kebanyakan dari married people merasa sengsara.

wpid-fb_img_1423920506486

Wah, maksudnya apa nih? Ini penulis pro single banget yak? Eitss, tunggu dulu, pikirannya jangan melayang kemana-mana dulu.

And I would suggest to you and with no fear of contradiction that the most miserable people in the world are not single. It’s true. The most miserable people in the world are married. That does not mean that all married people are miserable, I’m not. I’m thrilled, I’m happy. But I’ll tell you, the potential for misery in marriage is greater than the potential for misery being single because when you’re single there’s only one person who can make you miserable. And as I’ve said before, the only thing worse than wishing you were married is wishing you weren’t. All marriages have difficulty, hardship, sacrifice because you have two people who are human, who are fallen and they’re pressed so tightly together.

Then they have children, and you know what happens? More little sinners and you crush them into the mix. And the sin of one…speak for your own children, feel free, right?…I think you speak for all of us, but when you press all these sinners into the same environment there is an immense complexity. I think of that as a father. I not only have to deal with sin and temptation in my own life, but I have to shepherd my wife and all my children, and now all my little sinning grandchildren. And I’m telling you, when they’re all together, parents, children and all the sinners in one place at one time, it is a ministerial monstrosity. You can just about ask anybody who is married if they’ve ever had trouble, and they will…if they’re honest…tell you of course, it’s part of married life.

Kesimpulan: Di dunia ini yang lebih paling sengsara adalah orang-orang yang menikah. Ini benar adanya. Akan tetapi bukan berarti setiap orang yang telah menikah pasti sengsara. Ada yang bahagia juga pastinya. Namun, maksudnya, potensi kesengsaraan orang dalam pernikahan lebih tinggi daripada kesengsaraan orang yang statusnya single, karena dengan status single, hanya ada seseorang yang membuat Anda sengsara yaitu Anda sendiri.

Semua pernikahan mempunyai kesulitan, tantangan, pengorbanan yang dikarenakan 2 insan manusia, yang saling jatuh dan saling menekan dengan erat satu sama yang lain. Dalam pernikahan, terdapat beberapa anak yang artinya bertambahlah para pendosa kecil, saya berpikir seperti itu sebagai seorang ayah. Saya tidak hanya berkutat dengan dosa dan godaan di dalam diri saya sendiri, tetapi saya juga harus menggembalakan istri dan semua anak saya dan sekarang sedikit dosa dari cucu-cucu saya.

Bertanyalah tentang masalah pernikahan yang dihadapi kepada orang yang telah menikah, jika mereka mau jujur, akan ada masalah pernikahan yang dapat diutarakannya kepada Anda, karena ini adalah bagian dari kehidupan pernikahan.

3. Pernikahan bukanlah solusi.

Please, if you’re single, do not look at marriage as the solution to your trouble. It probably is the multiplication of it. Marriage intensifies human weakness because it puts you under such intimate scrutiny. Sometimes young people say, “You know, I have strong desires sexually and if I can just get married.” That is not in itself a sufficient reason to get married. Even after marriage there is no guarantee that your elicit temptation will go away. And the fulfillment you find in your marriage doesn’t satisfy…listen carefully…doesn’t satisfy unrighteous longings.

Some people say, “Well I’m lonely, I need to get married cause I’m lonely.” And they get married and often are far more lonely after married than before because somebody so close becomes so indifferent, and that’s crushing.

Listen carefully, It has no relationship to eternity.

Kesimpulan: Jika Anda single, jangalah mengira pernikahan adalah solusi untuk masalah Anda. Karena kemungkinan besar hanya untuk melipatgandakan masalah. Terkadang terdapat orang-orang muda yang berkata, “Aku mempunyai nafsu seksual yang begitu kuat dan itulah kenapa aku ingin menikah.” Alasan seperti itu tidaklah cukup untuk menikah, bahkan pernikahan pun tidak dapat menjamin godaan seperti itu akan lenyap. Kepuasan dalam pernikahan bukanlah untuk pemuasan semata, bukan memuaskan hal yang melenceng dari kebenaran.

Ada juga yang berkata, “Yah, aku kan kesepian, aku perlu menikah karena aku kesepian.” Dan setelah mereka menikah, seringkali mereka menjadi lebih kesepian daripada sebelumnya, yang karena sikap pasangan Anda menjadi begitu acuh tak acuh pada Anda dan itu menghancurkan. Dengarkan baik-baik, tidak ada hubungan abadi. Tidak ada.

Intinya, jangan melekat.

Young woman reaching hand towards sun

*Ada lagi nih, penggalan yang menggelitik dan menarik untuk dilirik.

The form of this world here is described as marriage, sorrow, material things. It’s all passing away. Marriage is part of the passing world. It’s coming to an end. It is brief. It is a vapor that appears for a little time and vanishes away and our life is very short, James 4:14. What is your life? Just a vapor. And marriage is a part of that very short vapor, it’s a part of that very brief time. It suits us wonderfully and richly for this life but has no connection to eternity. It is God’s design that we attach lightly to earthly things.

“Set your affections on things above and not on things on the earth.” I don’t think it means be indifferent to your spouse, I don’t think that at all. I don’t think it means become so spiritual, so godly and so consumed with ministry that you ignore your life partner or your family. It simply means you must give to marriage a perspective that it belongs to a passing time. You say, “Well, will I not love my partner in heaven?” Of course, but you’ll have perfect love toward everyone. “Will I not know my partner in heaven?” Of course with perfect knowledge the likes of which you’ve never even experienced. But understand the relationship you have now for physical fulfillment, for procreation and for joy is part of temporal life.

Kesimpulan: Pernikahan adalah bagian dari melewati dunia. Sangat singkat dan seperti uap yang muncul dalam sekejap, lalu menghilang. Hidup kita ini sangat singkat sekali. Dan pernikahan merupakan bagian dari uap yang singkat. Pernikahan sesuai dengan kita yang secara luar biasa dirancang untuk hidup ini, tetapi tidak abadi. Inilah rancangan Tuhan kepada kita untuk tidak lekat kepada hal-hal duniawi. Taruhlah kasih sayang di atas semua hal, tetapi tidak di atas bumi ini. Bukan berarti menjadi acuh tak acuh dengan pasanganmu. Juga bukan berarti menjadi sangat religius dan meninggalkan pasangan dan keluargamu. Sederhananya, Anda harus menempatkan pernikahan sebagai sesuatu untuk berlalunya waktu. Mengertilah bahwa hubungan yang Anda bangun adalah untuk pemuasan secara fisik, berkembang biak dan kesenangan yang semuanya itu adalah bagian dari kehidupan duniawi.

Don’t let your marriage be a distraction from your spiritual life. You don’t want your human emotions to distract you from your spiritual life. You don’t want materialism to distract you from your spiritual life. You don’t want worldly pleasure to distract you from your spiritual life. And God has given you all those things to enjoy and you don’t want marriage to distract you either. Sorrow can be a distraction, so can pleasure and possessions and so can marriage.

Kesimpulan: Jangan biarkan pernikahan, emosi manusia, materialisme, kesenangan duniawi menjadi gangguan untuk kehidupan spiritual Anda. Penderitaan bisa menjadi gangguan, demikian juga kesenangan, kepemilikan dan pernikahan.

Saya juga setuju dengan penggalan beberapa paragraf di bawah ini:

“Hidup lajang maupun menikah, jika dijalani dengan bertanggung jawab, adalah pilihan yang sama-sama mulia. Masing-masing pilihan itu hadir lengkap dengan sukacitanya serta, tentunya, kesulitannya sendiri. Hidup lajang yang penuh berkat sudah disediakan bagi siapa saja yang tahu bagaimana cara mewujudkannya.”

“Hidup lajang, bagi banyak orang nampaknya merupakan suatu hal yang menakutkan sekaligus memalukan. Mungkin inilah yang menyebabkan para orangtua merasa gelisah jika anak mereka yang sudah cukup umur belum kunjung punya pacar. Inilah juga, mungkin, yang mendorong orang untuk bersikap asal bisa menikah, dengan siapa saja yang tersedia. Nantinya akan menghasilkan rumah tangga seperti apa, tidak dianggap penting dan tidak dipikirkan sejak awal. Maka, tidak heran jika banyak pasangan suami istri yang akhirnya bercerai hanya selang beberapa waktu setelah menikah atau meneruskan hidup berkeluarga tetapi tidak pernah bertegur sapa. Akibatnya, anak-anak juga yang menjadi korban.”

“Sementara itu, orang yang memilih untuk tetap melajang sampai tua dianggap sebagai orang yang perlu dikasihani, bahkan tak jarang dipandang rendah. Suatu hari, seseorang yang baru berkenalan dengan saya bertanya, “Putra Ibu berapa?”, saya pun menjawab, “Saya single.” Mendengar jawaban saya, si penanya tadi meminta maaf karena telah menanyakan hal itu, padahal menurut saya, tidak ada yang salah dengan pertanyaannya tersebut.”

“Sesungguhnya, hidup lajang maupun menikah, jika dijalani dengan bertanggung jawab, adalah pilihan yang sama-sama mulia. Masing-masing pilihan itu hadir lengkap dengan sukacitanya serta, tentunya, kesulitannya sendiri.”

“Secara umum, orang yang hidup lajang memiliki lebih banyak waktu, kesempatan, dan kebebasan untuk mengembangkan diri serta meniti karir, sebuah ‘kemewahan’ yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang menikah. Mereka yang hidup lajang tidak dibebani dengan tanggung jawab dan tugas-tugas rumah tangga yang, meskipun seringkali kelihatan remeh, tetapi berat dan memakan banyak waktu. Mereka juga tidak dibebani dengan keharusan untuk saling menyesuaikan diri dengan pasangan yang dalam praktiknya, seringkali tidak mudah.”

***

Jadi, lajang ataupun sudah menikah, tetap hargai siapapun di sekitarmu yang menentukan jalan kehidupannya sendiri. Tak perlu merasa benar karena telah menikah dan punya pasangan lalu merendahkan yang single; Tak perlu merasa lebih bebas dan tak punya beban berat menjadi single lalu merendahkan banyaknya beban hidup orang yang menikah. Masing-masing punya tantangan dan kesenangan sendiri. Dengan ikut campur, hanya akan memperkeruh air yang sudah kotor.

Referensi : https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:x0SePXgLFCQJ:https://www.gty.org/resources/pdf/sermons/90-109+&cd=2&hl=en&ct=clnk&gl=id | http://ributrukun.com/post/hidup-lajang-yang-penuh-berkat-1457443820

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s